Powered By Blogger
Senin, 05 Desember 2011

TAKSONOMI


Indikator:  Mahasiswa mampu menerapkan taksonomi dalam penyusunan   instrumen evaluasi sesuai dengan  karakteristik kurikulum  bidang studi.

I. PENGERTIAN TAKSONOMI
       Taksonomi adalah klasifikasi atau jenis segi-segi  kepribadian yang akan dimiliki setelah sekelompok orang mengikuti proses belajar. Sampai saat ini telah banyak sekali macam taksonomi baik yang telah hidup dalam masyarakat dan tanpa diketahui siapa penyusunnya maupun taksonomi yang scara ilmiah yang disusun oleh para ahli. Dalam pendidikan yang konvesional telah lama dikenal taksonomi tujuan pendidikan yang tersusun dari cipta, rasa dan karsa. Beberapa orang menggunakan aspek-aspek bibit, bobot dan bebet serta nang, ning dan nung sebagai taksonomi. Sayang sekali taksonomi yang semacam itu belum dilandasi dengan pengkajian dan penjabaran secara ilmiah, sehingga usaha pencapaiannya melalui proses  belum dapat dilakukan secara teknis.  Hal yang sama ditemukan pada taksonomi tujuan pendidikan Yunani Kuno yang tersusun dari aspek pikiran, perasaan dan tindakan. Gagne menyusun Taksonomi Tujuan Pendidikan yang komposisinya terdiri aspek-aspek intelektual, strategi kognitif, pengetahuan verbal, ketrampilan motorik dan sikap. Seorang guru dapat dikatakan menggunakan taksonomi Gagne bila guru itu membimbing muridnya  memperoleh sesuatu keterampilan  motorik, memperoleh kematangan sikap, menguasai cara-cara belajar baru, memdapatkan tambahan pengetahuan dan mencapai ketajaman ketelitian dalam penalaran baik secara terpisah-pisah maupun terpadu.
       Sekarang ini taksonomi tujuan pendidikan yang digunakan mencakup  aspek-aspek penalaran (kognisi), budi pekerti (afeksi) dan keterampilan (psychomotor).  Secara global taksonomi tersebut tidak banyak berbeda dengan yang telah kita kenal sebai cipta, rasa dan karya, sayangnya taksonomi tujuan pendidikan tersebut belumlah didukung oleh konsep-konsep ilmiah sehingga cara-cara pencapaiannya dalam proses belajar mengajar belum menentu.  Bebeda halnya dengan Taksonomi Tujuan Pendidikan yang kita anut secara luas seperti sekarang ini Ada tiga kelompok ahli yang telah menyusun  Tujuan Pendidikan   Yakni kelompok Bloom, Krachwohl dan Simpson masing Penalaran, budi pekrti dan psikomotor. Mereka adalah para ahli yang yang bekerja secara terpisah dalam menyusun taksanominya. Tetapi karena ketiga kelompok  terdapat tujuan, gagasan dan cara kerja  yang dapat dikatakan serasi maka orang cenderung memadukan hasil kerja mereka sebagai seperangkat Taksonomi Tujuan Pendidikan yang kompak.
.
Taksonomi Tujuan Pendidikan Aspek Nalar

  1. ingatan (knowelge)
  1. Pengetahuan
    1. Mengetahui
Yang dimaksud mengetahui menenali kembali hal-hal yang umum dan khas,  mengenali kmbali metode dan proses, mengenali kembali pola, struktur dan perangkat. Tujuan pedidikan pada golongan ini menekankan terjadinya proses psikologis yang disebut mengingat. Secara analogi ingatan dapat disamakan dengan sebuah arsip dari berbagai dokumen yang suatu saat dapat dibuka untuk disajikan; Dalam hal ini teori tanggapan dapat digunakan untuk merangsang proses mengingat. Tujuan pendidikan golongan ingatan ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1).Mengetahui hal-hal yang khas
     1,a) Mengetahui istilah-istilah, yakni mengetahui wujud kongkrit dari simbol-simbol khusus dan sebaliknya, baik verbal maupun non verbal.
      1.b) Mengetahui fakta-fakta khas seperti tanggal tertentu, tempat tertentu dan peritiwa tertentu.
2.Mengetahui cara-cara atau piranti untuk melakukan hal-hal tertentu
      2,a) Mengetahui cara-cara konvensional untuk mengemukakan pendapat, misalnya mengetahui kebiasaan bicara dalam diskusi, cara menulis karangan, gaya bertanya untuk tujuan tertentu.
      2,b) Mengetahui arah kecenderungan dan urutan, yakni mengetahui proses, arah dan gerakan suatu gejala dalam kaitannya denga waktu. Misalnya mengetahui urutan peristiwa sejarah, mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang terjadi  berdasarkan suatu proses kejadian.
       2.c) Mengetahui klasifikasi dan kategori , yakni mengetahui golongan, kelas, kelompok, perangkat, bagian dari dan bagi suatu pendapat, gagasan atau masalah. Misalnya mengetahui dari ruang lingkup dari suatu kelompok bahasan ,  Nengetahui bahwa permasalahan tersebut ternasuk dalam suatu bidang tertentu, mengetahui komponen-komponen dari suatu sistem.
       2.d) Mengetahui kriteria yang  digunakan untuk menilai atau menguji kebenaran suatu pendapat atau fakta. Misalnya mengetahui bahwa loncatan paling jauh tanpa kesalahan dalam melakukannya merupakan kriteria untuk menetapkan juara pertama dalam pertandingan lompat jauh.

3. Mngetahui hal-hal yang universal dan abstraksi dalam sesuatu bidang
                               3.a) Mengetahui pinsip dan generalisasi, yakni mengetahui hal-hal tertentu yang digunakan sebagai gagasan dalam mengemukakan sesuatu atau dalam memecahkan suatu masalah dan mengetahui hal-hal yang diberlakukan secara umum. Misalnya mengetahui prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum, mengetahui dalil, kesimpulan dan hukum tertentu.
                                3.b) Mengetahui teore dan struktur,  mengetahui saling kait antara berbagai prinsip dan generalisasi sehingga menampilkan pandangan yang jelas, utuh dan sistematis tentang gejala, masalah atau gagasan yang kompleks. Misalnya mengetahui teore evolusi, mengetahui hubungan antara teore dengan teore-terore yang lain.

Kemampuan Keterampilan intelektual
    1. Memahami
Memahami menunjuk pada suatu proses di mana seseorang paham tentang apa yang sedang dikomunikasikan dan mampu memaanfaatkan bahan atau gagasan yang dikomunikasikan tanpa perlu mengkait-kaitkannya dengan bahan atau gagasan lain dan tanpa melihat implikasi-implikasi menyeluruhnya. Memahami terjabar sebagai berikut:
1. Menerjemahkan, yakni kemampuan memahami secara cermat dan tepat sehingga mampu mengemukakan kembali dari hal-hal yang dikemukakan tidak mengalami perubahan arti, baik dalam mengalih bahasakan maupun dalam menyusun komunikasi ulang. Misalnya menerjemahkan sesuatu dari bahasa asing, medeskripsikan sesuatu peristiwa yang non verbal dengan bahasa lisan atau tuliasan secara tepat dan benar.
2.  Menafsirkan, yakni menjelaskan atau merangkum sesuatu yang dikomunikasikan. Apabila penerjemahan menyangkut bagian demi bagian yang obyektif di dalam komunikasi timbal balik, menafsirkan menyangkut pengurutan kembali dan penambahan wawasan baru atas hal-hal yang dikomunikasikan sehingga komunikasi baru menjadi lebih jelas dalam menyampaikan pesan. Misalnya mampu menafsirkan sesuatu pendapat yang dikemukakan secara kurang jelas, bias tepat seperti apa yang dimaksudkan oleh si pengemuka pendapat.
3.  Mengekstrapolasikan, yakni kemampuan dalam memperkirakan arah atau kecenderungan sesuatu di luar data yang tersedia. Misalnya kemampuan untuk menetapkan implikasi, konsekkuensi, deduksi dan akibat  dari sesuatu bertolak  dari kondisi yang dihadapinya.

c. Mengaplikasikan
                       Mengaplikasikan merupakan kemampuan menggunakan abstraksi di dalam situasi yang kongkrit. Abstraksi itu mungkin  sebagai hal yang umum, peraturan prosedural atau metode atau rumus-rumus atau hukum-hukum yang telah dibakukan. Abstraksi bisa juga berupa prinsip-prinsip teknis, gagasan atau teore. Misalnya kemampuan menggunakan suatu gagasan untuk memecahkan sustu masalah, menerapkan langkah-langkah berpikir dalam merumuskan sesuatu dan menggunakan sesuatu prinsip dalam menyusun suatu pendapat.
d.Menganalisis
Menganalisis adalah menjabarkan sesuatu ke dalam unsur-unsur, bagian-bagian atau komponen sedemkian rupa sehingga tampak jelas susunan atau hirarki gagasan yang ada. Atau membuat lebih tampak jelas berbagai hubungan dan hirarki yang dinyatakan dalam sustu komunikasi. Analisis bertujuan untuk memperjelas dan menunjukkan bagaimana sesuatu diorganisasikan . Analisis terdiri dari::
1.      Menganalisis unsur, yakni kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur yang membentuk sesuatu. Misalnya dapat mengidentifikasi bagian dari unsur-unsur yang mendasari sesuatu topik perkuliahan.
2.      Menganalisis hubungan, yakni kemampuan mengidentifikasi hubungan dan interaksi antara unsur-unsur yang membentuk sesuatu. Misalnya dapat mengidentifikasi komponen-komponen lain dari suatu mesin
3.      Menganalisis prinsip-prinsip organisasi, yakni Kemampuan menidentifikasi susunan organisasi, tatanan yang sistematik dan struktur yang mengikat sesuatu. Misalnya mengidentifikasi sistematika suatu bacaan, dapat mengidentifikasi struktur suatu program dan dapat mengidentifikasi susunan organisasi gagasan yang membentuk teore, hipotesis atau kesimpulan.

d.      Menyintesakan
Menyintesakan merupakan kemampuan untuk menyatukan unsur-unsur atau bagian-bagian sedemkian rupa sehingga membentuk suatu keseluruhan yang utuh. Menyintesakan berupa proses pikir untuk mengatur dan mengkombinasikan cacahan, bagian dan unsur sedemkian hingga terbentuk sutu pola atau struktur yang sebelumnya tidak jelas. Menyntesakan terdiri dari

!.  Menciptakan komunikasi unik, yakni kemampuan untuk mengembangkan komunikasi sebagai penulis atau pembicara, dimana gagasan, perasaan dan pengalaman disalurkan kepada orang lain dengan cara yang sesuai dengan kepribadiannya sehingga tujuan komunikasi tercapai. Mesalnya kemampuan memberikan ceramah yang memikat hadirin karena mampu menguasai persoalan yang diceramahkan dan mampu mengidentifikasiapa yang ingin diketahui oleh pendengarnya.
2. Menyusun rancangan, yakni kemmpuan untuk menyusun program atau rencana operasional sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya mampu menyusun persiapan mengajar atau mampu menyusun langkah-langkah kerja dalam rangka membuktikan suatu hipotesis.
3. Memperoleh perangkat hubungan abstrak, yakni kemampuan mnemukan perangkat hubungan abstrak untuk mengklasifikasikan atau menjelaskan data atau gejala tertentu, untuk mendeduksikan dalil dan untuk menciptakan rumus-rumus simbolik. Misalnya mampu merumuskan dalil, mampu menciptakan rumus-rumus perhitungan dengan simbol-simboltertentu dan mampu menyusun criteria untuk mengklasifikasikan sesuatu.

  1. Mengevaluasi
Mengevaluasi merupakan kemampuan untuk menetapkan nilai atau harga diri sesuatu bahan dan metoda komunikasi untuk tujuan tertentu. Sebab itu evaluasi merupakan penilaian kualitatif dan kuantitatif  tentang seberapa jauh bahan dan metoda komunikasi itu memenuhi suatu criteria yang ditetapkan oleh orang lain. Tercakup didalam mengevaluasi ialah kemampuan untuk menggunakan criteria  atau standar penilaian. Evaluasi terjabar sebagai berikut
1. Mengevaluasi dengan kritera internal, yakni kemampuan menilai komunikasi dengan criteria ketepatan logikanya dan konsistensinya, Misalnya kemampuan menilai benar tidaknya suatu gagasan dengan criteria apakah gagasan itu disusun secara logis dan melahirkan buah pikiran yang logis pula menurut logika si penilai.
2.  Mengevaluasi dengan kriteria eksternal. Misalnya kemampuan menilai benar tidaknya suatu gagasan dengan criteria apakah gagasan itu disusun secara logis dan melahirkan buah pikiran yang logis memnurut logika yang ditetapkan oleh pihak lain.

B. Taksonomi Aspek Budi Pekerti   (afeksi)

       Aspek Budi Pekerti berkaitan dengan sikap manusia, yang dapat di jabarkan sebagai berikut:
  1. Menerima (memperhatikan)
Menerima atau memperhatikan adalah kepekaan terhadap kehadiran gejala/rangsangan tertentu. Hal itu berarti, seorang menerima atu memperhatikan ssuatu kalau dia bersedia menerima kehadiran suatu gejala tertentu. Tujuan Pendidikan terhadap sikap menerima ini sebagai berikut:
  1. Sadar, Yaitu menerima kenyataan yang ada. Misalnya sadar bahwa seseorang berada didekatnya, sadar bahwa pakaiaanya berwarna merah.
  2. Kesediaan menerima, yakni mempunyai iktikat untuk  mau bertoleran dengan perangsang atau gejala tertentu, tidak menghindari atau menolak. Misalnya mau memperhatikan saat dosen berbicara.
  3. Memperhatikan secara terkendali, yakni memperhatikan sesuatu melalui pemilihan perangsang atau gejala tertentu sesuai dengan minat dan kesukaannya. Misalnya hanya mau mendengarkan musik-musik kesukaannya, melakukan kebiasaan-kebiasaan yang menyenangkan.
  1. Merespon
Merespon adalah mereaksi perangsang atau gejala tertentu. Dengan merespon seseorang  mempunyai motif untuk memberikan reaksi secara aktif terhadap sesuatu. Orang itu merasa wajib untuk terlibat dalam proses interaksi. Merespon dapat di rinci sbb.
1.Memperoleh sikap responsip, yakni patuh atau menuruti sesuatu. Patuh dan menuruti mengandung sikap pasif dan perangsang yang mengandung tingkah laku yang reaktif harus keras menantang. Walaupun demkian, memperoleh sikap responsive tidak berarti menyerah karena terpaksa atau mogok berbuat sesuatu. Misalnya menuruti nasehat.
2, Mau merespon, yakni mau atau berkemauan untuk memberikan reaksi dengan implikasinya yang berupa kapasitas untuk berindak secara suka-rela. Mau merespon berarti ada unsure persetujuan diri atau bertindak atas pilihan sendiri. Misalnya mengakrabkan diri dengan orang atau kelompok orang tertentu, tidak merokok dalam menerima tanggung jawab kesehatan diri dan lingkungannya.
3. Merasa puas dalam merespon, yakni memperoleh kepuasan ketika respon itu dilakukan. Rasa puas itu dapat berupa kesukaan, kesenangan, atau kenikmatan. Misalnya merasa puas ketika dapat menyelesaikan kewajibannya.

c. Menghargai
    Menghargai artinya menurut keyakinannya suatu gejala mempunyai harga atau nlai tertentu. Pada diri seseorang, konsep abstrak tentang nilai sebagian terbentuk oleh hasil dari penggunaan criteria individu dalam menghargai sesuatu, tetapi konsep itu lebih banyak terbentuk oleh criteria penilaian  yang digunakan dalam kehidupan masyarakat. Kriteria penilaian itu diinternalisasikan ke dalam dirinya dan diakui sebagai miliknya. Menghargai dapat dijabarkan:
  1. Menerima nilai, yakni penerimaan emosional akan suatu dalil atu doktrin atas dasar mana seseorang secara implisit menganggapnya sebagai dasar tingkah laku. Menerima nilai dapat juga diartikan sebagai mempercayai nilai. Ciri menonjol dari seorang yang mempercayai suatu nilai ialah respon yang konsisten terhadap sekelompok obyek yang sama, yang muncul pada saat-saat yang berbeda. Misalnya percaya, bahwa menolong orang lain, walaupun bagaimana ditanggapinya adalah perbuatan baik.
  2. Mendabakan nilai, rasa haus akan nilai, menginkan nilai. Orang yang mendabakan nilai akan mencari nilai untuk dimiliki. Misalnya keinginan untuk memikul suatu tanggung jawab dalam kehidupan keluarga sehari-hari dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
  3. Merasa wajib mengabdi kepada nilai, yakn rasa haus untuk bertindak sesuai nilai yang dipercayai. Dalam banyak hal, tingkah laku seseorang yang merasa wajib mengabdi ke pada nilai menegaskan kesetiaan orang kepada nilai-nilai yang dipercayainya.Di dalamnya terdapat unsur emosional yang kuat dan hal-hal yang irasional. Misalnya mengabdi atau mengejar cita-cita yang bernilai luhur.

  1. Mengorganisasikan nilai
              Mengoganisasikan nilai mencakut mengatur nilai-nilai menjadi suatu system nilai, menyusun jalinan nilai-nilai itu dan menetapkan berlakunya nilai-nilai yang dominant dan merasuk. Pengorganisasian nilai-nilai seperti itu dilakukan secara bertahap dengan kemungkinan masih akan berubah apa bila nilai-nilai baru dipadukan. Dapat dijabarkan:
  1. Mengkonseptualisasikan system nilai, yakni merupakan perkembangan lanjut dari menghargai dengan menambahkan nilai-nilai baru dalam nilai-nilai yang telah dianut serta meningkatkan mutu nilai-nilai yang sedang dikonseptualisasikan. Di sini terjadi abstraksi nilai, sehingga nilai-nilai dapat berlaku secara lebih menyeluruh. Misalnya kemauan memikul tanggung jawab yang lebih berat atau berusaha mencapai cita-cita yang lebih tinggi.
  2. Mengorganisasikan system nilai, yakni mensistemkan nilai-nilai yang tadinya mempunyai hubungan yang sangat kompleks. Nilai-nilai yang tadinya berbeda, tidak bersesuaian bahkan mungkin berlawanan, disusun secara utuh dalam suatu keteraturan hubungan yang melahirkan suatu system nilai baru. Misalnya, dapat menyeimbangkan antara kepentingan pribadi dengan pengabdian kepada sesame manusia, antara mengejar karier dengan memikul tanggung jawab keluarga.

e. Mewatak
       Mewatak oleh nilai merupakan suatu kondisi di mana tingkah laku seseorang telah terkontrol oleh sistem nilai yang dianutnya. Kontrol itu berlangsung secara terus menerus dalam waktu yang lama, Tindakan tingkah laku yang terkontrol system nilai tidak lagi menimbulkan gejolak emosi, kecuali apabila terdapat hambatan, tekanan, perlawanan dan ancaman.  Dapat dijabarkan:
    1. Melakukan secara umum seperangkat nilai, yakni menindakkan tingkah laku yang mewujudkan nilai-nilai yang diyakini. Misalnya bertingkah laku tanpa pamrih karena tingkah laku itu secara murni dibenarkan dan didukung oleh system nilai yang diyakini dan sekaligus merupakan perwujudan dari niali-nilai dalam system nilai itu (mnemiliki falsafat hidup)
    2. Mewatak, yakni suatu kondisi di mana nilai-nilai dari system nilai yang diyakini telah benar-benar merasuk di dalam pribadi seseorang . Orang seperti itu dapat dikatakan sebagai orang yang budi pekertinya mendekati kesempurnaan. Dia mengembangkan falsafat hidupnya.


e.       TAKSONOMI PENDIDIKAN ASPEK PSIKOMOTOR

a.       Mengindera
Mengindera ialah kegiatan psikomotor yakni dilaksanakan dengan alat-alat indera, Ada 6 macam pengideraan
                                                                                      i.      Mendengar yakni mengindera dengan telinga
                                                                                    ii.      Melihat, yakni mengindera dengan mata
                                                                                  iii.      Meraba, yakni mengindera dengan syaraf
                                                                                  iv.      Mengecap yakni mengindera dengan lidah
                                                                                    v.      Membau yakni menindera dengan hidung
                                                                                  vi.      Bergerak, yakni melakukan gerakan fisik.
b.      Menyiagakan diri
Menyiagakan diri ialah mengatur kesiapan diri sebelum melakukan sesuatu tindakan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Yang termasuk golongan menyiagakan adalah:
                                                                                      i.      Konsentrasi mental untuk melakukan tindakan motorik, Konsentrasi tersebut mencakup kegiatan menyusun langkah-langkah tindakan, memperhitungkan waktu, memperkirakan intensitas tindakan, mengidentifikasi masalah (hambatan) dan hasil tindakan, merencanakan mengatasi masalah dan memusatkan perhatian kepada sasaran tindakan.
                                                                                    ii.      Menyeimbangkan emosi untuk melakukan tindakan motorik.
Kegiatan yang tercakup di dalam menyeimbangkan emosi terutama yang menyangkut pembentukan kemauan untuk bertindak atas berketetapan hati untuk bertindak.
                                 3,   Berpose tubuh yang menguntungkan untuk melakukan tindakan motorik. Kegiatan ini berupa mengambil ancang-ancang untuk segera melakukan tindakan.

c.       Bertidak secara terpimpin
Bertindak secara terpimpin adalah melakukan tidakan dengan mengikuti prosedur tertentu. Tindakan ini adalah:
1, Menirukan, yakni melakukan tindakan dengan mencontoh orang lain. Menirukan tindakan mencakup menirukan prsedur (langkah-langkah tindakan), jenis-jenis gerakan dan intensitasnya.
2. Mencoba-coba, yakni melakukan tindakan eksploratif yang bersifat untung-untungan. Tindakan mencoba-coba mencakup mensimulasi (kotak-katik), mengidentifikasi tindakan yang salah, memperbaiki tindakan yang salah dan mengulang tindakan yang benar yang efektif mencapai tujuan.
d. Bertindak secara mekanik
    Bertindak secara mekanik adalah bertindak mengikuti prosesdur baku. Ciri utama tindakan mekanik adalah kemahiran yang di dalam proses tindakan mensyaratkan sebagai kelancaran atau kecepatan bertindak, kemudahan bertindak dan ketepatan bertindak, yang kesemuanya itu menghasilkan pencapaian tujuan.

e.  Bertindak secara kompleks
    Bertindak secara kompleks adalah bertindak secara tergabung yang didukung oleh kompetensi. Di dakamnya tercakup semua tindakan keahlian dari berbagai bidang profesi, Tanda-tanda khas dari orang yang bertindak secara kompleks ialah mampu menyusun mekanisme kerja sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dan mampu menciptakan teknologi baru.

Rangkuman:
                                    TAKSONOMI
NALAR
AFEKSI
PSIKOMOTOR
Penegahuan
Kemampuan Keterampilan Intelek


C1. Pengetahuan

C2.Pemahaman
C3.Aplikasi
C4. Analisi
C5. Sintesis
C6. Evaluasi


a.Menerima
b.Merespon
c.menghargai
d.mengorganisasikan
e.Mewatak

a.Mengindera
b.Menyiagakan Diri
c.Berndak secara   terpimpin
d.Bertindak secara mekanik
e.Bertidak secara kompleks
BLOOM
KRATHWOHL
SIMPSON


Bahan diskusi
A.    Apakah fungsi taksonomi dalam suatu pembelajaran
B.     Mengapa Penguasaan Taksonomi amat diperlukan dalam pemetaan butir-butir tes
C.     Bagaimana seandainya pembuatan pengembangan butir tes tidak menerapkan fungsi taksonomi
D.  Organisasikan sesuai materi bidang studi anda dan mengacu pada taksonomi,  minimal ada kandungan 10 jenis bagian taksonomi
E.     Buat sepuluh Butir tes pilihan ganda sesuai dengan aateri bidang studi dan minimal terdiri dari 5 jensin bagian taksonomi.


0 komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel Lain

 
;